OLEH: 'Ne (sendangjiwa.wordpress.com)
“Untuk Sang Puan Perempuanku..
Aku dalam kisah panjang..
Jujur aku iri sekali waktu melihat kamu bersama keluargamu, papa-mamamu dan juga adikmu. Kalian terlihat begitu harmonis. Biasanya aku hanya tahu dari ceritamu tentang bagaimana kamu dan keluargamu di rumah, begitu akur, bahagia dan harmonis. Jika kalian berkumpul selalu ada gelak tawa saling bercanda, saling bertukar cerita bahkan tentang kita pun tidak malu kau ceritakan pada keluargamu, begitu juga adikmu. Sepertinya dalam keluargamu tidak ada sekat yang menghalangi komunikasi kalian. Yang ada hanyalah keterbukaan dan juga rasa saling mengasihi yang akhirnya menjadi sebuah pengertian.
Puan apa kau ingat? pernah suatu kali aku berada di tengah-tangah keluargamu dengan keadaan yang sama seperti yang kau ceritakan padaku, saat itu aku merasa menjadi bagian dari keluargamu, aku sangat berbahagia karena baru pertama kali aku merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh dan begitu hangat. Tapi di satu sisi aku merasa begitu sedih karena aku tidak bisa melihat dan merasakan semua itu dalam keluargaku. Entah sejak kapan kebahagiaan, kehangatan dan keharmonisan meninggalkan keluargaku. Aku tidak tahu pasti, karena mungkin sejak aku lahir semua itu memang tidak pernah ada.
Jika kini aku tahu karena aku sudah cukup untuk bisa memahami apa yang terjadi. Papa mamaku hidup dalam satu rumah, tidur dalam satu ranjang tapi aku bisa melihat dan merasakan kalau mereka tidak pernah berkomunikasi dengan hati. Mungkin yang tahu hanya aku karena kakakku kuliah di Jogjakarta dan jarang pulang atau mungkin saja dia tahu tapi pura-pura tidak tahu. Aku pikir seharusnya kakakku bisa memberi pengertian pada kedua orang tuaku, tapi nyatanya hanya aku yang peduli. Kakakku menenggelamkan diri dalam kuliahnya, kamu tahu kan dia kuliah di dua universitas sekaligus, mungkin dia memang sengaja melakukan itu agar tak perlu sering-sering pulang ke rumah.
Selama itu pula banyak hal buruk yang aku lihat dalam rumahku dan hanya aku yang berusaha untuk memberi pengertian kepada orang tuaku jika mereka mulai bertengkar. Setiap hari rumahku seperti di neraka saja, tidak pernah ada ketenangan, selalu ada teriakan-teriakan dan diakhiri dengan tangisan mamaku. Bahkan pertengkaran yang terakhir yang aku saksikan, mamaku nekat mengambil pisau dan nyaris mengiris nadinya jika tidak cepat-cepat kutahan dan kurebut pisau itu. Saat kau bertanya kenapa dengan tanganku, kau begitu khawatir dan memaksaku ke dokter tapi aku hanya berkata terkena pecahan kaca. Aku selalu berpura-pura tegar untuk semua masalah yang ada dan seolah-olah keluargaku dan hidupku baik-baik saja. Setiap itu pula aku tidak pernah menangis di luar meskipun di dalam hatiku aku begitu hancur dan terluka. Meski terkadang jika di depanmu aku selalu hampir saja menumpahkan semua dukaku, tapi aku sungguh tidak tega merusak kebahagiaanmu dan keluargamu dengan kisah keluargaku yang tidak pantas untuk didengar. Selain itu aku sama sekali tidak ingin membebanimu. Aku berusaha menutupi segala duka dan kesepianku dari orang-orang, yang aku anggap hanya akan mengasihaniku tanpa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin di kasihani karena hanya akan membuatku terlihat lemah.
Puan perempuanku, saat aku dalam keputusasaan, saat jiwaku letih dan hatiku merintih ingin mengecap kebahagiaan, saat itulah aku berkenalan dengan Amphetamine atau yang orang bilang shabu-shabu!! Saat aku tersadar aku telah terbang terlalu jauh dalam buaian barang jahanam itu! Hingga aku tak kuasa untuk melawan. Sempat aku membulatkan tekad demi hidup yang indah dan bahagia bersamamu Puan, agar aku bisa selalu menikmati senyum surgamu dan memandang ke dalam mata bidadarimu sepanjang hidupku. Aku bertekad untuk menghentikan godaan setan terkutuk itu! Tetapi aku justru makin terlena dengan mimpi sesaat yang menyesatkan!!
Dalam hatiku selalu bertanya dapatkah aku kembali? mampukah aku? Tapi sungguh candu itu begitu menggoyahkan hati dan jiwaku hingga aku semakin terjerat karenanya dan tak kuasa lagi untuk melawan. Rasanya terlalu indah untuk kutinggalkan, keindahan semu yang aku pertahankan karena aku terlalu pengecut untuk kembali pada kenyataan pahit. Puan kekasihku, apakah aku telah menjadi seorang pendosa? Aku sudah berkali kali mencoba untuk melawan, tapi ternyata aku tidak pernah mampu untuk melawan semua ini.
Puan Perempuanku, ah sejuk sekali rasanya memanggilmu begitu. Teringat saat kamu berkata “Aku lebih senang dipanggil perempuan” sembari tersenyum manis kamu berkata begitu. Seharusnya perempuan sebaik dan seriang kamu tidak pernah bertemu dengan lelaki macam aku. Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi padaku nanti jangan pernah keluarkan air matamu yang suci hanya untuk menangisi seorang pemadat sepertiku, sekalipun aku harus pergi untuk selamanya dan jangan pernah merasa tidak berarti. Karena bagiku saat-saat bersamamu adalah kebahagiaan dan kenangan yang terindah sepanjang hidupku yang kelam. Terima kasih –bahkan kata itu tidak cukup- karena kau telah bersedia menjadi bagian dari hidupku dan maafkan aku karena tidak pernah jujur dan tidak sempat membahagiakanmu. Berjanjilah kamu akan tetap tersenyum, segetir apapun hidupmu dan sekeras apapun dunia terhadapmu. Kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang indah, tapi bukan bersamaku.
Lelakimu..
Aditya Kusuma”
Surat itu menjadi saksi perih pedih dan jerit tangis hatiku. Begitu banyak rasa yang berkecamuk di dalam hatiku saat itu, marah, sedih, kecewa dan terutama kehilangan yang teramat sangat. Bahkan kata kata pun tak sanggup lagi untuk mendefinisikan perasaanku kala itu. Tidak habis pikir kenapa seorang Adith begitu tega menyembunyikan semua penderitaannya dariku. Apakah Adith tidak percaya bahwa aku akan tetap bersamanya, bahwa aku juga akan selalu mendukung dia?
Aku membaca surat itu seminggu setelah kepergian Adith, surat itu di temukan di kamar Adith di samping tubuhnya. Dan baru diberikan padaku oleh kak Rani, kakak Adith. Adith di temukan meninggal dunia karena over dosis shabu-shabu. Hal ini diketahui setelah dokter memeriksanya untuk mengetahui penyebab kematiannya. Disamping itu ditemukan juga jarum suntik yang digunakan untuk “nyipe” oleh Adith.
Satu pesan yang ingin Adith sampaikan untuk keluarganya dia sampaikan lewat sebuah foto, dalam bingkai kayu dia tuliskan “Aku ingin seperti ini lagi, bisakah?” dan terlihat sebuah foto keluarga, suami istri dan sepasang anak laki-laki dan perempuan berumur berlasan tahun. Foto tersebut tak lain adalah foto keluarga Adith pada masa-masa yang terindah baginya. Meski pada akhirnya kematian Adith tidak pernah bisa menyatukan keluarganya yang memang sudah tidak utuh lagi. Sayang sekali kematiannya menjadi sia sia, tapi aku tetap setia berdoa untuk kebahagiaan dia di sana.
“Adith, izinkanlah hari ini aku menangis. Aku janji ini yang terakhir kalinya dan setelah hari ini aku tidak akan pernah menangisi kepergianmu lagi, semoga kau temukan kebahagiaan dan kadamaian yang selama ini kau cari. Akupun akan hidup dengan bahagia bersama kenangan tentangmu yang terindah..”
-Sang Puan-
Purwokerto, Lima April Doea Riboe Enam
note: untuk semuanya yang membaca, saya hanya ingin mengingatkan jangan pernah jauhi orang orang yang terlanjur terjerumus, apalagi orang terdekat kita, jangan tinggalkan dia dan bimbinglah dengan sabar, mereka hanya butuh teman bukan ditinggalkan atau diabaikan. Sebelum kalian menyesal jika harus kehilangan mereka untuk selamanya. Tidak mudah memang.
So keep away from drugs, Say no to drugs and Don’t use drugs!!! Terutama narkoba suntik, karena itu juga merupakan salah satu penyebab menyebarnya HIV and AIDS.
oya sampai saat ini saya belum bisa bikin tulisan happy ending ya hehe.. susah euy :mrgreen:
0 komentar:
Posting Komentar